"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan ni'mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat."
"Dan hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,merekalah orang-orang yang beruntung."
(QS Ali Imran:104)
"Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Al Ankabut : 69)
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
(Qs. Al Alaq 1-5)
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. At Taubah: 41)
“Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan berjuang pada jalan Allah dengan harta dan dirimu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Jika kamu berbuat demikian) niscaya Allah akan mengampuni dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya, dan (ke dalam) tempat-tempat yang indah dalam surga And. Itulah kemenangan yang besar.”
(QS. As Shaf: 11-12)
"Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Al Ankabut : 69)
"Dan hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,merekalah orang-orang yang beruntung."
Berikut dokumentasi yang diambil saat pelantikan Pengurus RIMA periode 2005-006 , hari Sabtu 26 Muharram 1427 H. Acara yang dihadiri oleh Wakil kepala sekolah, Bpk Fuad Al Jihad, pembina Rima Bpk. Jumadin, dan seluruh pengurus kelas X, XI, dan 3.
SuratCINTAkepada saudara-saudaraku yang sedang berjuang di jalan-NYA
Assalamu'alaikum. Warrahmatullahi wabarakatuh
Yaa ikhwati fillah yg dicintai 4JJ1 dan Rosul-Nya...
Selamat kepada saudara-saudaraku yang akan dan sedang meneruskan jalan dakwah ini. Tidak semua orang mau menempuh jalan yang berkelok-kelok, mendaki, dan terjal. Beruntunglah orang-orang yang mau menempuhnya karena yakin akan janjiNYA yang tak pernah meleset / teringkari, yang sangat didambakan. Seindah syurga Allah yang Dia janjikan kepada hamba-hambaNya yang berjuang di jalanNya. Dalam dakwah itu penuh dengan KENIKMATAN dan KEINDAHAN. Yaitu kenikmatan saat BEKERJA KERAS menyampaikan kebaikan, keindahan karena memiliki sahabat, bahkan lebih tepatnya saudara-saudara seperjuangan dan lain sebagainya. Tapi semua itu akan kita dapatkan hanya dengan satu syarat...yaitu kita harus IKHLAS dalam berdakwah.
Perjuangan hanya bisa dilakukan oleh orangCERDAS, diusung orang IKHLAS, dimenangkan orang PEMBERANI. Allahu Akbar!!
teruslah berjuang ...
teruslah kibarkan panji dakwah...
masih banyak saudara kita yang butuh hidayah...
bila hari ini kita telah beroleh sedikit cahaya....
tuk sudi kita berbagi dengan siapa saja... agar bila hal ini akan menyampaikan kita ke surga....
Pada bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine's Day. Biasanya mereka saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?
SEJARAH VALENTINE’S DAY
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-putri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya”(Al-Isra':36). HUKUM MERAYAKANNYA
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”
Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah n berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih). Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan : “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.” Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7) Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.
Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51) “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)
WASPADA
Dengan masuknya hari Valentine yang bersalut budaya syahwat itu ke Indonesia dan ke negara mayoritas Muslim lainnya, maka umat Islam akan terancam. Terutama para remajanya. Valentine dapat merusak Aqidah dan akhlak Umat Islam”. Dari segi aqidah, jelas sumbernya bukan dari Islam. Dari segi akhlak jelas bertentangan dengan norma Islam yang ada. Menurut ukuran Islam perbuatan maksiat yang mengiringi hari Valentine, tiada lain dari ”amal as syaithan”, perbuatan syetan yang harus dijauhi. Umat Islam seharusnya selalu meningkatkan kewaspadaanya. Waspada, bahwa dari sejak awal keberangkatannya syetan bertekad menghiasi dunia ini untuk menyesatkan manusia. “Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” Al Hijr QS 15:39
“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah dari Allah) diantara mereka” Al Hir QS 15:40. Sebenarnya syetan yang sudah putus asa dengan diutusnya Rasul Muhammad SAW, melancarkan dakwah. Target mereka tidak lagi berusaha keras mengkafirkan orang Mukmin, tetapi sudah puas bila manusia mau mentaatinya. “………. Sesungguhnya syetan itu telah berputus asa untuk disembah di bumimu (Makkah) ini, tetapi dia sudah merasa puas jika ia ditaati dalam hal-hal selain itu…….” (sebagian dari khutbah Rasulullah pada Haji Wada. Tampaknya sudah menjadi Sunatullah, upaya syetan menyesatkan manusia tidak akan berhenti sampai hari kiamat. Ia akan baru berhenti bila masa “teken kontraknya” sudah habis, yakni pada yaumil yaqtil ma’lum.
“Sampai hari waktu yang telah ditentukan (yakni waktu tiupan pertama tanda permualaan hari kiamat.” Al Hijr QS 15:38 Ia akan mendatangi manusia dari semua arah, dari kanan – kiri, dari muka – belakang. “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Al A’raf QS 7:17. Dengan memproyeksikan upaya itu justeru pada hal-hal yang disenangi manusia “Hubbus Syahwat” “Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda-kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawwah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) Ali Imran QS 3:14. Dan hari Valentine dijadikan mereka sarana untuk mengumbar hubbus syahwat ini.
Penangkal Karena valentine bertentangan dengan aqidah dan norma akhlak Islam yang ada, seyogyanya kaum Muslim membendungnya. Kemudian penangkal berikutnya adalah preventif dan kuratif yang perlu dicari di dalam Al Quran atau Hadits Rasul, disamping itu tentu saja harus ada ikhtiar manusia lainnya dengan berbagai kesenjangan sosial. Pergaulan bebas, perjudian, minum minuman keras, pencurian pemerkosaan, pelacuran dan bentuk-bentuk maksiat lainnya menurut istilah Al Quran disebut ‘amal as syaitan’ atau ‘khuthuwat as syaithan”, langkah-langkah menahannya dengan cara sebagai berikut : Pertama, Membina pribadi-pribadi Muslim menjadi insan-insan mukhlis, ikhlas dalam beragama, sesuai dengan pengakuan iblis (biangnya syetan (QS 15:39-40) di atas. “HambaMu yang Mukhlis” yaitu manusia yang dari sejak menyatakan dirinya muslim sampai menyatakan Islamnya itu dalam perbuatan semata-mata karena didorong oleh keyakinan akan kebenaran Allah. Ia dari Islam yang dianutnya mengharapkan ridla Allah SWT. Manusia semacam ini akan memiliki ketangguhan mengatasi bujuk rayu syetan. Kedua, Masih dalam surat yang sama (ayat 41-42) yakni manusia harus tetap berdiri di jalan yang lurus atau “Shirathal mustaqim” sesuai dengan pernyataan Allah sendiri : Dia (Allah) berfirman : “Ini (Islam) jalan yang lurus. Sesungguhnya hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka kecuali orang-orang yang mengikuti kamu yaitu orang-orang yang sesat”. Orang semacam ini juga tidak mudah terayu oleh godaan syetan sebab ia memiliki pendirian yang tetap, langkahnya pasti sebab ia mengerti petunjuk (‘rambu-rambu’) dan tujuan jalan yang ditempuhnya. Ketiga, Menjadikan dan mencukupkan hanya Allah menjadi pimpinan sebagaimana dijelaskan Allah pada Ql Quran : “Sesungguhnya hamba-hamba Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-Mu sebagai Penjaga” Al Israa QS 17:65. Orang yang menjadikan Allah menjadi pemimpin dan pimpinan perjalanan hidupnya akan selalu terbimbing. Pikirannya, perkataannya dan perbuatannya akan sesuai dengan peraturan Allah. Hidup dengan mengikuti dan mentaati peraturan Allah dijamin akan selamat sebab hidup dan liku-liku kehidupan ini ciptaan Allah dan hanya Dia Yang Maha Tahu dalam peraturannya. Penangkal lainnya yang bersifat ikhtiar manusiawi berupa filterisasi terhadap kebudayaan luar yang masuk. Penyakit ingin cepat meniru tanpa mengkaji baik buruknya ikut memungkinkan cepat menjalarnya segala yang datang dari luar. Juga ingin disebut hebat, bergengsi, tidak kampungan sebenarnya justru menunjukan harga diri kurang. Harga diri ini masih perlu ditingkatkan seperti Allah membangkitkan harga diri Nabi Musa disaat dia merasa keder menghadapi jago-jago sihir Firaun : Ya Musa laa takhaf innaka anta laaila”. “Wahai Musa jangan takut, sesungguhnya engkau lebih tinggi”.
Kasih Sayang yang Islami Pesta semalam suntuk dalam rangka ber-Valentine’s Day diikuti dengan perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan moral dan agama (khususnya Agama Islam), tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. Kasih sayang yang dilahirkannya hanyalah kasih sayang semu dan palsu. Walaupun hanya sekilas, setelah itu kerusakan yang timbul. Kasih sayang sejati adalah “kasih sayang tulus, yang membawa kebahagian dan kedamaian bagi kedua belah pihak.” Islam adalah agama rahmat Agama yang membawa kasih keseluruh alam jagat raya ini, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”Al-Anbiya : 107 Menurut Islam tidak ada nilainya di sisi Allah manusia yang tidak memiliki kasih. Nabi pernah berkasih, Nabi pernah bersumpah : “Demi yang diriku berada di genggamannya, tidak akan masuk surga orang yang tidak beriman dan kalian tidak akan menjadi orang beriman sehingga kalian saling berkasih sayang”. Maukah aku tunjukkan kalian kepada sesuatu yang jika kalian lakukan niscaya kalian akan berkasih sayang, tebarkan salam diantara kamu sekalian (H.R Muslim dari Abu Hurairah) Itulah kasih sayang sejati.
Syukur alhamdulillah,pada hari Selasa 1 Muharram 1427 H , RIMA bekerjasama dengan OSIS SMA N 1 Cilacap mengadakan acara kajian bersama di aula SMA N 1 C untuk menyambut acara Tahun Baru Hijriah 1427 H. Acara ini dihadiri kurang lebih 400 peserta dan beberapa guru.
Acara diisi dengan tausiyah dari Ust. Habib Ghozali dan dimeriahkan juga dengan hiburan berupa band dan drama islami. Berikut beberapa dokumentasi yang kami ambil
Tahun berganti....
Syukur kita harus ditingkatkan
Nikmat Allah tak pernah mampu dihitung
Umur - usia adalah masalah waktu
Selamat tahun baru untuk semua siswa-siswi muslim SMA N 1 Cilacap dan seluruh ummat Islam seluruh dunia. Semoga kita selalu termasuk orang yang pandai menggunakan waktu dan tahu arti penting dari Waktu.
Hanya orang mukmin yang tahu arti waktu.. sebab dia tahu bahwa dia akan dipertanyakan oleh Allah di hari akhir tentang waktu yang dia lalui .
Kita sambut Tahun baru Hijriah, Mari Tingkatkan Ketauhidan
Syukur alhamdulillah, Seminar yang kemarin (Rabu, 11 Januari 2006) telah dilaksanakan oleh RIMA bekerjasama dengan Lembaga Psikologi Terapan (LPT) Cahaya Umat Yogyakarta berjalan lancar dan insyaallah membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Amien...
Seminar ini diikuti kurang lebih 300 peserta dan dihadiri oleh Bpk Tri Winarso (kepala sekolah) dan Bpk Ismail (guru agama Islam) di Ruang Multi Media SMA N 1 Cilacap. Bang Fadli sebagai narasumber memberikan materi yang ringan tapi berbobot dengan tema remaja yang Rela berkorban demi Islam. Peserta sangat antusias dengan isi materi yang dibawakan dengan gaul, syar'i and Fun!
Hal-hal yang dibutuhkan oleh remaja untuk dapat memaksimalkan diri dalam berkorban demi Islam yaitu memiliki Prinsip, wawasan, Skill, dan Spesialisasi. Berikut dokumentasi yang kami ambil saat acara berlangsung
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Qs. Al-Kautsar 1-3)
Syukur alhamdulillah atas partisipasi dari seluruh siswa-siswi muslim SMA 1, uang kurban dapat terkumpul sebanyak Rp 7.700.000,00 dan sudah kami belikan hewan kurban berupa 9 ekor kambing.
Untuk mengisi kegiatan acara idul adha, insyaAllah RIMA akan mengadakan :
Shalat idul adha
Hari/tanggal: Selasa, 10 januari 2006
Waktu: 06.00 - selesai
Tempat: Aula SMA Negeri 1 Cilacap
Imam& penceramah: Ust. Jumadin, S.Ag
Seminar Remaja
Hari/tanggal: Rabu, 11 januari 2006
Waktu: 08.30- 11.30
Tempat : Ruang Multi Media
Narasumber: Ust. Fadli Reza, dari LPT Cahaya Umat Yogyakarta
Tema: Remaja yang rela Berkorban Demi ISLAM
Ditunggu partisipasi dari temen-temen untuk menghadiri acara idul adha.
Sreet....! Satu lembar lagi kalender sobek yang mangkal di atas meja kerja kudu menghuni tempat sampah. Phew....sobat, nggak kerasa ya, dalam hitungan hari, sebentar lagi kita akan memasuki tanggal keramat di awal tahun. 1 Januari bow! Tanggal yang memaksa kita mencampakkan kalender lama yang lecek bin dekil of the kumel dengan semua kenangan yang tersimpan di setiap tanggalnya. Posisinya kudu digantikan oleh almanak baru yang siap merekam setiap peristiwa dalam keseharian kita. Ibarat pepatah, “Habis tanggal, kalender dipenggal”. Kejam nggak sih?
Nggak cuma ganti kalender secara massal, akhir tahun juga selalu diwarnai berbagai tradisi. Di stasiun tv, ada tayangan kaleidoskop yang mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun yang akan ditinggalkan. Dukun dan paranormal banyak disantroni untuk dapetin ramalan jodoh, rizki, musibah, atau peruntungannya di tahun depan. Para desainer pakaian, penata rambut, atau produsen kosmetik juga udah siap me- launching produk-produk terbarunya untuk dipopulerkan di tahun mendatang.
Ada juga yang punya tradisi berburu kalender baru yang gratisan (jangan tesinggung ya?). Di mana saja dan kapan saja, panca inderanya nggak lepas dari pantauan sinyal-sinyal yang menunjukkan keberadaan kalender gratisan. Dari tukang bakso sampe supir angkot, sempet-sempetnya pake ditagihin kalender. Malahan, yang biasanya beli kopi Liong Bulan sebungkus di warung depan rumah, bela-belain pergi ke toko kopi di pasar biar dapet kalender. Jalan kaki lagi. Idih, ini sih tipe remaja hemat setiap saat. Watau!
Tapi semuanya kalah prestise dibanding tradisi perayaan tahun baru. Sudah harga mati kalo momen istimewa ini nggak boleh lewat tanpa dirayakan dengan heebooooh! Buat remaja, terasa garing binti kering-kerontang kalo malam tahun baru kagak pake acara arak-arakan di jalan raya. Baik dengan jalan kaki atau pake kendaraan bermotor sambil bakar petasan dan kembang api, niup terompet, metik gitar, nabuh gendang, plus ngedarin 'kotak infak' dari gelas plastik (ini konvoi ama ngamen seh?)
Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari udah wanti-wanti bakal ngegelar acara spesial dalam rangka menyambut tahun baru. Musik, dance, kuis, games, semuanya digelar hingga larut malam. Puncak kemeriahan terjadi pada saat perhitungan mundur menjelang detik-detik proklamasi, eh pergantian tahun sebelum jarum jam menunjukkan pukul 00.00 (tahun baru) Lima... empat... tiga... dua... satu... toooeet!!!
Tanpa dikomando, penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet. Di jalan raya, raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah kesunyian malam. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya langit dan makin menambah kemeriahan dan semaraknya suasana. Kemudian berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru, sun pipi kiri-kanan dan tukar-menukar kado dalam iringan musik yang hingar-bingar.
Tradisi perayaan tahun baru masehi
Sobat muda muslim, ternyata perayaan tahun baru nggak cuma sebatas merengkuh kebersamaan aja lho. Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka terhadap dewa. Nah lho!
Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja. Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara si “Toloy Bocah Sakti” Ronaldo.
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Masa' sih? Ah...namanya juga takhayul!
Sejarah tahun masehi
Sobat muda muslim, di tengah gencarnya ajakan dari sana-sini untuk ngerayain tahun baru, kita justru sedih. Sedih karena banyak di antara kita, khususnya remaja mulim, nggak ngeh kalo perayaan tahun baru merupakan bagian dari hari suci umat Kristen. Seperti yang tercantum dalam pernyataan dari kedubes AS perihal sejarah dan perayaan tahun baru.
Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi. Gitchu ceritanya!
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. (www.irib.ir)
Sementara kalender sekarang yang banyak dicari di akhir tahun adalah Kalender Gregorian atau kalender Masehi. Kalender ini yang dinobatkan sebagai standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Termasuk untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia. (www.babadbali.com)
Hindari tasyabuh...
Sobat muda muslim, sekarang kita tahu dong kalo perayaan pergantian tahun merupakan tradisi yang berasal dari orang kafir. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyeru dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum, populer, tren, dan bisa diperingati oleh siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Hati-hati ya...
Sialnya, banyak dari kita yang nggak menyadari serangan budaya ini. Terlena oleh acara malam tahun baru yang dikemas secara apik dan menarik. Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama atau kepercayaan lain. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani).
Dalam hadits lain diceritakan: ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi SAW menanyakan kepadanya (yang artinya): “Apakah di sana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam.” (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas mengajarkan kita untuk menghindari syiar dan ibadah orang kafir baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Meski itu dalam rangka beribadah kepada Allah. Sebab hal itu sama aja turut menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.
Sobat, semoga dalil di atas cukup mampu mengerem keinginan untuk berpartisipasi dalam perayaan tahun baru atau hari-hari besar umat lain. Kecuali kalo kita mau digolongkan ke dalam penganut agama selain Islam. Tahu dong, konsekuensinya kalo Allah menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang kafir. Kita bakal kekal ‘nginep' di neraka. Iih, nggak lah yauw..!
Trus gimana dong?
Pertama, kita nggak perlu malu bin segan untuk menolak ajakan sohib untuk hura-hura bin pesta-pora di malam tahun baru. Di hadapan temen-temen boleh jadi kita dianggap sombong, nggak toleran, atau malah dikira alien alias makhluk asing karena ‘beda'. Tapi di hadapan Allah, kita bisa termasuk golongan para penghuni surga. Amiin.
Kedua, kita nggak ngikut tahun baruan bukan berarti kita nggak peduli dengan pergantian tahun lho. Tetep kita nyadar kalo pergantian tahun merupakan bagian dari perubahan waktu. Saking sadarnya, kita mencoba mensikapi sang waktu seperti yang dicontohkan tauladan kita, Nabi SAW. Bukan dengan euforia bergelimang maksiat, tapi sebagai alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad).
Sobat muda muslim, kesempatan yang Allah berikan nggak akan datang dua kali. Waktu yang telah kita lewati nggak akan bisa diputar ulang. Tapi akan terus ngotot lari dan pergi.
Kita perlu sadari bahwa kita nggak akan selamanya muda. Jika usia kita panjang, mau nggak mau, waktu bakal nganterin kita memasuki kehidupan orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Apa yang kita harapkan di masa depan jika sekarang kita lebih doyan hura-hura bin pesta-pora dibanding memanfaatkan waktu untuk mengasah keterampilan, pola sikap, dan pola pikir kita. Bisa-bisa otak kita sampai meninggal masih orisinil karena jarang dipake buat nyari pemecahan masalah. Walah!
Suatu saat juga kita akan sampai di ujung waktu. Satu masa dalam hidup saat kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat. Masihkah kita memimpikan kesenangan surgawi di kala kita sibuk mengejar materi dan popularitas dengan mengorbankan aturan Ilahi.
Karena itu, mari kita sama-sama sambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh dan mengurangi amal salah. Kita luruskan niat dalam berperilaku semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji, memahami, meyakini semua aturan Allah SWT. Kita kuatkan pijakan kaki kita di atas akidah Islam di tengah serangan budaya dan pemikiran Barat. Kita padati hari-hari kita untuk siapkan perbekalan dalam menghadapi masa tua dan masa persidangan yaumul hisab kelak. Terakhir, kita semayamkan dalam diri kita semangat perjuangan Rasulullah SAW, para shahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan para mujahid di medan perang untuk mengembalikan izzah Islam wal Muslimin . Allahu akbar!
Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhanahu wata'ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.
Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallahu'anha "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat".(Muttafaq `alaih)
Disunnatkan berwudhu' sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara' bin `Azib Radhiallahu'anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu'lah sebagaimana wudlu' untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..." Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.
Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..." Di dalam satu riwayat dikatakan: "tiga kali". (Muttafaq `alaih).
Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallahu'anhu menuturkan :"Nabi Shallallahu'alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu'alaihi wasallam membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :"Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka". (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya". (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman". (Muttafaq'alaih).
Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, seperti : Allaahumma qinii yauma tab'atsu 'ibaadaka
"Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu". Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)
Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya
" Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (HR. Al Bukhari)
Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : " A'uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri 'ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna."
Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku". (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)
Hendaknya apabila bangun tidur membaca :
"Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba'da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru"
"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan." (HR. Al-Bukhari)